Rabu, 28 November 2018

PENYESALAN


PENYESALAN


Hai, namaku Salma Aulia. Biasa dipanggil Salma.Ayahku bernama Malik asa’ad dan Umiku bernama Halimah. Aku adalah anak kedua dari dua bersaudara, Abangku bernama Muhammad Alif. Umurku dan Abangku berbeda 8 tahun, saat ini Abangku adalah kepala keluarga di keluarga kami. Karena sekitar 6 tahun yang lalu Ayahku meninggal dunia. Jadi aku dibesarkan oleh Umi dan Abangku. Untuk membiayai keluarga kami Umi mengolah sendiri butik muslimah miliknya. Sedangkan Abangku dia kuliah semester akhir jurusan kedokteran.

Aku akan bercerita tentang kisahku dimasa lalu. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika hati dipatahkan sepatah-patahnya oleh kaum Adam. Aku pernah merasakan atau bahkan terjebak dalam kisah cinta monyet yang hingga akhirnya aku terikat dalam suatu ikatan, ikatan yang jelas sangat dilarang atau bahkan tidak dihalalkan dalam agamaku yaitu “PACARAN”, ketika itu aku masih berusia 16 tahun dan duduk dibangku SMK kelas 11, saat itu aku butuh sosok yang bisa menyemangatiku, aku sangat haus akan pererhatian. Karena saat itu Umi sedang sibuk-sibuknya mengolah butiknya dan Abangku yang terlalu focus dengan kuliahnya.

Sampai akhirnya aku bertemu sosok pria yang membuatku nyaman. Berawal dari saling follow social media yang menjadikan aku dan dia teman, kami menjadi dekat karena saat itu dia mengirim sebuah pesan lewat social media yang mengajakku berkenalan, aku tidak terlalu menanggapinya sampai akhirnya aku membalas sebuah pesannya karena isi pesan tersebut adalah sebuah salam yang wajib untuk aku jawab. Tidak berhenti sampai disitu dia selalu menanyakan kabarku, dan setiap aku memposting sesuatu dia selalu menanggapinya dengan positif, dan mulai saat itu juga hatiku mulai tergoyah oleh pria itu.

Waktu demi waktu, hari demi hari itu benar-benar terasa, aku sangat merasa nyaman dengan dia, aku tau perasaanku ini sebenarnya salah sangat salah. Tapi aku mengira bahwa dia meraakan hal yang sama denganku. Sampai tiba saatnya dia mengungkapkan perasaannya kepadaku bahwa dia mencintaiku dan ingin aku menjadi kekasihnya, aku sangat terkejut saat itu sampai aku bertanya kepadanya mengapa bisa dia mencintaiku wanita yang jelas-jelas belum pernah bertemu dengannya, jawaban dia hanya “aku ingin bertemu denganmu”. Rasa khawatir jelas aku rasakan, karena ini pertama kalinya aku akan bertemu dengan Pria tetapi tanpa didampingi Fitri temanku. Aku tidak berani bercerita kepada Umi dan Abangku karena jelas mereka akan marah kepadaku. Akhirnya aku berani menemuinya.

Di sebuah taman yang berjarak tidak jauh dari rumahku aku menemuinya. Saat itu yang terucap olehku ketika melihatnya adalah “Subhanallah” bagaimana tidak, dia sangat tampan bagiku. Sudah sekitar 30 menit kami mengobrol tiba-tiba dia menanyakan jawabanku soal perasaannya kepadaku, tanpa berfikir lagi aku mengiyakan, maksudnya aku menerimanya menjadi kekasihku. Entah mengapa dimataku dia adalah laki-laki yang cukup baik untukku, dan mungkin karena usianya yang 2 tahun lebih tua dariku, hanya itu alasan aku menerimanya.

Sudah berjalan satu tahun hubunganku dengannya, sampai suatu saat handphone ku tertinggal di meja makan, aku baru ingat ketika aku sampai disekolah. Terkadang sepulang sekolah aku pasti mengobrol sebentar diruang tamu dengan Umi, terkadang Abang juga ikut mengobrol juga. Saat ini aku pun seperti itu mengobrol dengan Umi dan Abang. Tetapi kali ini aku melihat Umi sangat beda, wajah Umi seperti sedang marah, dan benar saja dugaanku Umi sedang marah kepadaku, dia berkata “Ini handphone punyamu Salma? tertinggal di meja makan” “Iya Umi itu milikku” jawabku cemas, “Reihan, siapa dia? Pria itu berkali-kali menghubungimu, jelaskan pada Umi sebelum Umi yang mencaritahunya sendiri” tegasnya, disitu Abang hanya diam dan menatapku dengan tatapan yang sangat tajam. Aku bingung harus bicara jujur atau tidak kepada Umi, karena aku benar-benar takut. Tapi akhirnya aku berkata jujur, karena jika tidak Umi akan lebih marah kepadaku “Dia,,, dia,,, pacarku Umi” jawabku sambil air mataku menetes, kali ini abang buka suara “Apa-apaan si lo Sal, lo tau Umi gasuka kalau kita berdekatan dengan yang bukan mukhrim kita. Dan lo malah pacaran, gaabis piker gua sama lo”. Aku hanya bisa menunduk dan menangis aku tidak bisa mengelak atau semacamnya karena ini memang salahku. Wajah Umi tampak sangat kecewa “Salma kamu tau Umi tidak melarang kamu memiliki teman laki-laki, dan kamu juga tau Umi akan sangat kecewa jika kamu memiliki hubungan atau ikatan dengan laki-laki. Bukankah Umi mengatakan dengan jelas saat itu?” Ini pertama kalinya aku membuat Umi menangis dan sangat kecewa, ada rasa bersalah yang amat besar dihatiku, dan saat itu juga aku meminta maaf dengan Umi dan Abangku.

Sejak kejadian itu aku jadi jarang mengobrol dengan Umi apalagi dengan Abang. Mungkin mereka sudah memaafkanku tapi mungkin juga belum sepenuhnya memaafkanku. Karena saat ini, aku masih menjalin hubungan dengan Pria itu. Aku bingung, aku tidak ingin melepaskannya, egois memang tapi sepertinya aku termakan dengan namanya “CINTA”. Hubunganku dengannya masih tetap baik, hanya saja dia sekarang lebih jarang menghubungiku dengan alasan sedang focus dengan tugas skripsinya.

Tetapi hampir empat bulan dia tidak pernah  menelponku, dia hanya mengirimkanku chat dan itu pun jarang sekali. Aku sempat menghubunginya tetapi panggilanku ditolak olehnya, katanya sih dia lagi focus ke tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk karena sudah akhir semester. Aku percaya apapun alasannya, sampai akhirnya, temanku Fitri menyuruhku memasang aplikasi Line di handphoneku karena Fitri menggunakan Line untuk berkomunikasi chatting dengannya. Setelah aku daftar agar bisa masuk ke account Lineku ternya otomatis nomer telephone di kontakku yang memasang aplikasi Line juga dihandphonenya akan terdaftar juga di daftar teman Lineku. Saat aku mengscroll daftar temanku disitu ada nama `Reihan` aku berfikir kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia memakai aplikasi Line. Karena penasaran aku buka profilnya saat aku lihat foto sampulnya aku melihat foto dia dengan seorang wanita, aku masih berfikir positif mungkin saja itu saudaranya, lalu aku melihat statusnya bertuliskan “Adel”.

Sejak saat itu aku langsung menelponnya dan bertanya “Siapa wanita itu kak?” (ya `KAK` itu panggilanku untuknya, lalu dia menjawab “maksudmu?” “wanita yang ada di foto sampul Linemu” “Line? kamu munggunakannya juga” “iya siapa itu Adel kak?” “itu pacarku”jawabnya tanpa rasa bersalah.  “pacar kakak?” “iya, aku mendekatimu dan menjadikan kamu pacarku hanya untuk berjaga-jaga jika nanti aku ditolak olehnya” tegasnya,  lalu aku menjawab pasrah “oh yasudah kak, sekarang kan kak Rei sudah jadian dengan Adel sekarang  berarti peranku sudah selesaikan kak? Kita sudahkan saja lebih baik” “memang itu yang aku mau” “yasudah semoga pilihan kakak tepat” “iya terima kasih”.

Aku merasa sangat bodoh dan hina saat itu, entah mengapa hatiku serasa memanas yang mendukung air mataku untuk terjatu. Jika dari awal aku tidak pernah membantar perintah Umi mungkin aku tidak pernah merasakan seperti ini. Aku sangat malu untuk bertemu dan meminta maaf kepada Umi dan Abang. Rasanya dosaku ini sangat besar, sampai akhirnya aku menemui mereka diruang tamu. “Umi, Salma minta maaf banget sama Umi. Umi salma sangat berdosa sama Umi, Salma gak nurut sama Umi, Salma udah buat Umi nangis. Maaf Umi, Salma sangat menyesal”. Mendengar pernyataanku Umi menjadi menangis dan berkata “Salma, Umi sudah memaafkan kamu. Umi maklum saat itu kamu dibutakan oleh cintanya remaja seusia kamu. Salma perlu kamu ingat nasihat yang umi berikan untuk kamu dan Alif itu untuk kebaikan kalian berdua. Umi hanya tidak ingin anak-anak Umi menjadi fitnah orang-orang diluar sana. Umi sayang sama kalian berdua” ujar Umi dan langsung memeluk erat Salma. Setelah itu Salma langsung mencium tangan Umi dan Abangnya  “Bang, Salma minta maaf ya. Harusnya Salma dengerin omongannya Abang karena Abangkan kepala rumah tangga keluarga ini” “Iya gua maafin, yang penting kita sama-sama tau bahwa Ridonya orangtua itu juga Rido-Nya Allah swt, dan murkanya Allah adalah murkanya orangtua juga. Salma perbaiki diri Salma dan gue juga” “Iya Bang, pasti Salma inget”

Setelah itu aku sudah tidak memikirkan siapa lelaki pasanganku. Untuk saat ini aku hanya focus belajar untuk masa depanku kelak. Karena lelaki yang baik untukku adalah lelaki yang datang kepadaku kelak ketika dia sudah siap lahir batin dan menemui keluargaku dan berani untuk mengkhitbahku. Saat ini aku hanya perlu menjalani masa remajaku dengan teman-temanku, dan menurutku ini juga menyenangkan dibandingkan harus berurusan dengan laki-laki yang tidak jelas.

Pesanku adalah dengarkan nasihat yang diberikan oleh orangtuamu. Karena nasihat mereka adalah untuk kebaikanmu. Tidak ada irangtua yang ingin melihat anaknya sedih dan menangis karena orang lain, atau bahkan disakiti oleh orang lain. Orangtua hanya ingin melihat anaknya bahagia dimanapun dan dengan siapapun.