PENYESALAN
Hai, namaku Salma Aulia. Biasa dipanggil
Salma.Ayahku bernama Malik asa’ad dan Umiku bernama Halimah. Aku adalah anak
kedua dari dua bersaudara, Abangku bernama Muhammad Alif. Umurku dan Abangku
berbeda 8 tahun, saat ini Abangku adalah kepala keluarga di keluarga kami. Karena
sekitar 6 tahun yang lalu Ayahku meninggal dunia. Jadi aku dibesarkan oleh Umi
dan Abangku. Untuk membiayai keluarga kami Umi mengolah sendiri butik muslimah
miliknya. Sedangkan Abangku dia kuliah semester akhir jurusan kedokteran.
Aku akan bercerita tentang
kisahku dimasa lalu. Kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu, ketika hati
dipatahkan sepatah-patahnya oleh kaum Adam. Aku pernah merasakan atau bahkan
terjebak dalam kisah cinta monyet yang hingga akhirnya aku terikat dalam suatu
ikatan, ikatan yang jelas sangat dilarang atau bahkan tidak dihalalkan dalam
agamaku yaitu “PACARAN”, ketika itu aku masih berusia 16 tahun dan duduk
dibangku SMK kelas 11, saat itu aku butuh sosok yang bisa menyemangatiku, aku
sangat haus akan pererhatian. Karena saat itu Umi sedang sibuk-sibuknya
mengolah butiknya dan Abangku yang terlalu focus dengan kuliahnya.
Sampai akhirnya aku bertemu sosok
pria yang membuatku nyaman. Berawal dari saling follow social media yang
menjadikan aku dan dia teman, kami menjadi dekat karena saat itu dia mengirim
sebuah pesan lewat social media yang mengajakku berkenalan, aku tidak terlalu
menanggapinya sampai akhirnya aku membalas sebuah pesannya karena isi pesan
tersebut adalah sebuah salam yang wajib untuk aku jawab. Tidak berhenti sampai
disitu dia selalu menanyakan kabarku, dan setiap aku memposting sesuatu dia
selalu menanggapinya dengan positif, dan mulai saat itu juga hatiku mulai
tergoyah oleh pria itu.
Waktu demi waktu, hari demi hari
itu benar-benar terasa, aku sangat merasa nyaman dengan dia, aku tau perasaanku
ini sebenarnya salah sangat salah. Tapi aku mengira bahwa dia meraakan hal yang
sama denganku. Sampai tiba saatnya dia mengungkapkan perasaannya kepadaku bahwa
dia mencintaiku dan ingin aku menjadi kekasihnya, aku sangat terkejut saat itu
sampai aku bertanya kepadanya mengapa bisa dia mencintaiku wanita yang
jelas-jelas belum pernah bertemu dengannya, jawaban dia hanya “aku ingin
bertemu denganmu”. Rasa khawatir jelas aku rasakan, karena ini pertama kalinya
aku akan bertemu dengan Pria tetapi tanpa didampingi Fitri temanku. Aku tidak
berani bercerita kepada Umi dan Abangku karena jelas mereka akan marah
kepadaku. Akhirnya aku berani menemuinya.
Di sebuah taman yang berjarak
tidak jauh dari rumahku aku menemuinya. Saat itu yang terucap olehku ketika melihatnya
adalah “Subhanallah” bagaimana tidak, dia sangat tampan bagiku. Sudah sekitar
30 menit kami mengobrol tiba-tiba dia menanyakan jawabanku soal perasaannya
kepadaku, tanpa berfikir lagi aku mengiyakan, maksudnya aku menerimanya menjadi
kekasihku. Entah mengapa dimataku dia adalah laki-laki yang cukup baik untukku,
dan mungkin karena usianya yang 2 tahun lebih tua dariku, hanya itu alasan aku
menerimanya.
Sudah berjalan satu tahun
hubunganku dengannya, sampai suatu saat handphone ku tertinggal di meja makan,
aku baru ingat ketika aku sampai disekolah. Terkadang sepulang sekolah aku
pasti mengobrol sebentar diruang tamu dengan Umi, terkadang Abang juga ikut
mengobrol juga. Saat ini aku pun seperti itu mengobrol dengan Umi dan Abang. Tetapi
kali ini aku melihat Umi sangat beda, wajah Umi seperti sedang marah, dan benar
saja dugaanku Umi sedang marah kepadaku, dia berkata “Ini handphone punyamu
Salma? tertinggal di meja makan” “Iya Umi itu milikku” jawabku cemas, “Reihan,
siapa dia? Pria itu berkali-kali menghubungimu, jelaskan pada Umi sebelum Umi
yang mencaritahunya sendiri” tegasnya, disitu Abang hanya diam dan menatapku
dengan tatapan yang sangat tajam. Aku bingung harus bicara jujur atau tidak
kepada Umi, karena aku benar-benar takut. Tapi akhirnya aku berkata jujur,
karena jika tidak Umi akan lebih marah kepadaku “Dia,,, dia,,, pacarku Umi” jawabku
sambil air mataku menetes, kali ini abang buka suara “Apa-apaan si lo Sal, lo
tau Umi gasuka kalau kita berdekatan dengan yang bukan mukhrim kita. Dan lo
malah pacaran, gaabis piker gua sama lo”. Aku hanya bisa menunduk dan menangis
aku tidak bisa mengelak atau semacamnya karena ini memang salahku. Wajah Umi
tampak sangat kecewa “Salma kamu tau Umi tidak melarang kamu memiliki teman
laki-laki, dan kamu juga tau Umi akan sangat kecewa jika kamu memiliki hubungan
atau ikatan dengan laki-laki. Bukankah Umi mengatakan dengan jelas saat itu?”
Ini pertama kalinya aku membuat Umi menangis dan sangat kecewa, ada rasa
bersalah yang amat besar dihatiku, dan saat itu juga aku meminta maaf dengan
Umi dan Abangku.
Sejak
kejadian itu aku jadi jarang mengobrol dengan Umi apalagi dengan Abang. Mungkin
mereka sudah memaafkanku tapi mungkin juga belum sepenuhnya memaafkanku. Karena
saat ini, aku masih menjalin hubungan dengan Pria itu. Aku bingung, aku tidak
ingin melepaskannya, egois memang tapi sepertinya aku termakan dengan namanya
“CINTA”. Hubunganku dengannya masih tetap baik, hanya saja dia sekarang lebih
jarang menghubungiku dengan alasan sedang focus dengan tugas skripsinya.
Tetapi
hampir empat bulan dia tidak pernah
menelponku, dia hanya mengirimkanku chat dan itu pun jarang sekali. Aku
sempat menghubunginya tetapi panggilanku ditolak olehnya, katanya sih dia lagi
focus ke tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk karena sudah akhir semester. Aku
percaya apapun alasannya, sampai akhirnya, temanku Fitri menyuruhku memasang
aplikasi Line di handphoneku karena Fitri menggunakan Line untuk berkomunikasi
chatting dengannya. Setelah aku daftar agar bisa masuk ke account Lineku ternya
otomatis nomer telephone di kontakku yang memasang aplikasi Line juga dihandphonenya
akan terdaftar juga di daftar teman Lineku. Saat aku mengscroll daftar temanku
disitu ada nama `Reihan` aku berfikir kenapa dia tidak memberitahuku kalau dia
memakai aplikasi Line. Karena penasaran aku buka profilnya saat aku lihat foto sampulnya
aku melihat foto dia dengan seorang wanita, aku masih berfikir positif mungkin
saja itu saudaranya, lalu aku melihat statusnya bertuliskan “Adel”.
Sejak
saat itu aku langsung menelponnya dan bertanya “Siapa wanita itu kak?” (ya
`KAK` itu panggilanku untuknya, lalu dia menjawab “maksudmu?” “wanita yang ada
di foto sampul Linemu” “Line? kamu munggunakannya juga” “iya siapa itu Adel
kak?” “itu pacarku”jawabnya tanpa rasa bersalah. “pacar kakak?” “iya, aku mendekatimu dan
menjadikan kamu pacarku hanya untuk berjaga-jaga jika nanti aku ditolak
olehnya” tegasnya, lalu aku menjawab pasrah
“oh yasudah kak, sekarang kan kak Rei sudah jadian dengan Adel sekarang berarti peranku sudah selesaikan kak? Kita
sudahkan saja lebih baik” “memang itu yang aku mau” “yasudah semoga pilihan
kakak tepat” “iya terima kasih”.
Aku merasa sangat bodoh dan hina
saat itu, entah mengapa hatiku serasa memanas yang mendukung air mataku untuk
terjatu. Jika dari awal aku tidak pernah membantar perintah Umi mungkin aku
tidak pernah merasakan seperti ini. Aku sangat malu untuk bertemu dan meminta
maaf kepada Umi dan Abang. Rasanya dosaku ini sangat besar, sampai akhirnya aku
menemui mereka diruang tamu. “Umi, Salma minta maaf banget sama Umi. Umi salma
sangat berdosa sama Umi, Salma gak nurut sama Umi, Salma udah buat Umi nangis. Maaf
Umi, Salma sangat menyesal”. Mendengar pernyataanku Umi menjadi menangis dan
berkata “Salma, Umi sudah memaafkan kamu. Umi maklum saat itu kamu dibutakan
oleh cintanya remaja seusia kamu. Salma perlu kamu ingat nasihat yang umi
berikan untuk kamu dan Alif itu untuk kebaikan kalian berdua. Umi hanya tidak
ingin anak-anak Umi menjadi fitnah orang-orang diluar sana. Umi sayang sama
kalian berdua” ujar Umi dan langsung memeluk erat Salma. Setelah itu Salma
langsung mencium tangan Umi dan Abangnya
“Bang, Salma minta maaf ya. Harusnya Salma dengerin omongannya Abang
karena Abangkan kepala rumah tangga keluarga ini” “Iya gua maafin, yang penting
kita sama-sama tau bahwa Ridonya orangtua itu juga Rido-Nya Allah swt, dan
murkanya Allah adalah murkanya orangtua juga. Salma perbaiki diri Salma dan gue
juga” “Iya Bang, pasti Salma inget”
Setelah itu aku sudah tidak
memikirkan siapa lelaki pasanganku. Untuk saat ini aku hanya focus belajar
untuk masa depanku kelak. Karena lelaki yang baik untukku adalah lelaki yang
datang kepadaku kelak ketika dia sudah siap lahir batin dan menemui keluargaku
dan berani untuk mengkhitbahku. Saat ini aku hanya perlu menjalani masa
remajaku dengan teman-temanku, dan menurutku ini juga menyenangkan dibandingkan
harus berurusan dengan laki-laki yang tidak jelas.
Pesanku adalah dengarkan nasihat
yang diberikan oleh orangtuamu. Karena nasihat mereka adalah untuk kebaikanmu. Tidak
ada irangtua yang ingin melihat anaknya sedih dan menangis karena orang lain,
atau bahkan disakiti oleh orang lain. Orangtua hanya ingin melihat anaknya
bahagia dimanapun dan dengan siapapun.